Senin, 26 Maret 2012

PEMIKIRAN HASAN AL-BANNA TENTANG URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM MEMBANGUN MORAL BANGSA


PEMIKIRAN HASAN AL-BANNA TENTANG URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM 
MEMBANGUN MORAL BANGSA

PEMIKIRAN HASAN AL-BANNA



BAB I 

 PENDAHULUAN

A. Penegasan Istilah

          Untuk mempermudah pemahaman dan penelitian serta menghindari kesalahpahaman terhadap judul skripsi ini, maka terlebih dahulu penyusun akan mengemukakan batasan dari istilah-istilah serta maksud yang terkandung dalam judul. Adapun istilah-istilah yang menurut penyusun perlu penjelasan adalah sebagai berikut :
  1. Mendidik
Mendidik adalah serangkaian usaha nyata orang tua dalam menyelamatkan fitrah Islamiyah anak, mengembangkan potensi pikir anak, potensi rasa, karsa, kerja dan mengembangkan potensi sehat anak.[1]
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia mendidik yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai ahlak dan kecerdasan pikiran.[2] Yang dimaksud dalam judul ini adalah mendidik yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.
  1. Anak Supernormal
Anak adalah seorang yang berada pada suatu masa dan perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa.[3] Agar pembahasan tidak terlalu luas maka anak disini berusia 6-12 tahun, yaitu pada masa usia sekolah.
Sedangkan supernormal yaitu super artinya lebih dari atau atas, normal artinya biasa. Jadi supernormal yaitu suatu tingkatan di atas normal.[4] Sedang maksud anak supernormal dalam skripsi ini yaitu anak yang mempunyai kecerdasan di atas anak-anak normal. Adapun tingkatan anak supernormal yaitu :
a.          Anak Superior mewakili golongan yang memiliki IQ 110-125
b.         Anak Gifted mewakili golongan yang memiliki  IQ 125-140
 c.     Anak Genius mewakili golongan yang memiliki IQ 140-200.[5]
  1. Perspektif
Perspektif artinya sudut pandang, pandangan.[6] Dalam skripsi ini istilah perspektif diberi pengertian bagaimana bila dilihat dari segi pendidikan Islam.
  1. Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah mempersiapkan dan menumbuhkan beberapa aspek ( badan, akal, rohani ) pada anak didik atau individu manusia yang prosesnya berlangsung secara terus menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia dan di arahkan agar ia menjadi manusia yang berdaya guna dan berhasil guna untuk dirinya dan orang lain.[7] Dalam skripsi ini pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam yang meliputi dasar dan tujuan pendidikan Islam.
Jadi penegasan istilah sesuai dengan judul di atas yang dimaksud dengan Mendidik Anak Supernormal dalam Perspektif Pendidikan Islam adalah upaya orang tua dalam mendidik anak yang mempunyai kecerdasan di atas normal agar berguna bagi dirinya dan masyarakat sehingga dapat mencapai masa depan yang cerah dengan sudut pandang Islam yang bertujuan untuk mempersiapkan anak didik baik dari segi jasmani, rohani, akal agar menjadi manusia mandiri yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara serta agama.

B. Latar belakang masalah

          Di era globalisasi sekarang, dunia semakin sempit. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat yang menimbulkan berbagai dampak dalam seluruh bidang kehidupan manusia. Baik dampak yang bernilai positif maupun negatif. Dalam hal ini pendidikan mempunyai peranan dalam membangun bangsa ke depan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup yang merata.
          Dalam menghadapi kemajuan tersebut secepatnya bangsa Indonesia harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan tidak perlu menunda-nunda lagi. Karena dengan SDM yang berkualitas bangsa Indonesia akan mampu mengikuti kemajuan tersebut. SDM yang berkualitas adalah berkembangnya manusia secara menyeluruh. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang berkembang optimal baik secara fisik, kognitif, emosi, sosial maupun spiritual.
          Secara tidak sadar bangsa Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang dapat dijadikan SDM  berkualitas. Bibit unggul tersebut yaitu anak yang memiliki kecerdasan lebih tinggi atau bisa disebut dengan anak supernormal.
          Anak supernormal memiliki keunggulan-keunggulan berbeda dengan anak normal. Dari segi fisik sedikit lebih unggul baik tinggi, bobot dan kesehatan. Lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama, mampu mencipta, mampu memahami mulai dari masalah material sampai masalah abstrak. Karena kelebihan dalam hal kecerdasan, maka cenderung bergaul dengan anak-anak yang lebih tua yang lebih banyak memiliki kemahiran fisik dan pengalaman.[8]
          Keunggulan-keunggulan yang dimiliki anak supernormal penting untuk dikembangkan dan dibimbing. Karena anak yang memiliki kecerdasan lebih laksana tanaman yang membutuhkan seseorang yang dapat membimbing dan membantunya agar berkembang secara alamiah, menghilangkan berbagai kendala yang ada dihadapannya, serta merintis jalan baginya. Merekapun membutuhkan seseorang yang dapat memahami serta menghargai kelebihannya.
          Apabila anak supernormal tidak disediakan pelayanan pendidikan, tidak dibimbing dan tidak dididik sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya yang khas, sehingga potensi-potensinya kurang dapat diwujudkan maka disamping dapat kehilangan bibit-bibit unggul bagi perkembangan negara dan bangsa Indonesia, anak-anak tersebut dirugikan bahkan dapat menjadi anak bermasalah, dan bisa jadi putus sekolah.[9] Jelas bahwa anak supernormal membutuhkan didikan dan bimbingan secara khusus dan serius.
          Upaya membimbing dan mendidik anak supernormal supaya menjadi SDM yang berkualitas dan memiliki masa depan yang cerah akan berhasil apabila didukung oleh orang tua dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting, karena orang tualah yang menemukan beberapa karakteristik anak pada usia yang sangat dini, yaitu saat dia membangdingkan dengan anak lain pada usia yang sama, kadang seorang ibu mengetahui bakat putrinya melalui aneka pertanyaan cerdas yang diajukannya. Disamping orang tua, lingkungan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat besar. Karena di lingkungan masyarakatlah mereka berkembang yang dapat mempengaruhi baik buruknya anak.
          Namun kebanyakan orang tua berkeyakinan bahwa anak yang mempunyai kecerdasan tinggi tidak mengalami kekhawatiran, sebab mereka mampu mengatasi masalahnya sendiri, orang tua memandang bahwa anak mereka memiliki segalanya. Padahal anak supernormal tidak memiliki kemampuan untuk mencapai jalan yang benar tanpa bantuan orang lain, sebab mereka memerlukan bantuan dalam berkreasi dan menampilkan potensinya. Mereka tidak hanya memerlukan motivasi, tetapi lebih banyak memerlukan pengertian dan partisipasi serta dukungan. Masyarakatpun tidak terlalu memperhatikan anak-anak cerdas, tidak memberi sugesti, dan tidak membangkitkan kemampuan-kemampuan internal untuk mencipta dan berkreasi. Masyarakat memberlakukan mereka sama seperti yang lain, tidak ada yang beda maupun yang istimewa. Disinilah anak-anak tersebut menemukan lingkungan yang seolah-olah tidak menghargai sebagaimana mestinya dan tidak mengenal kelebihan-kelebihan mereka. Akibatnya membuat mereka lemah atau guncang dan bisa membunuh faktor-faktor kreatifitas dan menghilangkan tanda-tanda kecerdasan. Tak obahnya seperti bibit unggul yang istimewa tumbuh di tanah yang gersang, tidak dipupuk dan tidak disirami dibiarkan hidup sehidup-hidupnya.
          Bahkan yang lebih parah lagi orang tua kurang mengetahui tentang keadaan anaknya yang tergolong supernormal sehingga kalau anaknya berbuat hal-hal yang tidak masuk akal, orang tua tidak dapat mengerti. Bisa jadi orang tua hanya akan marah-marah, menghukum dan selalu menyalahkan. Oleh karena itu perlu bagi orang tua untuk memahami dan mengetahui  tanda-tanda kecerdasan dan ciri-ciri anak supernormal.
          Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang berat. Nabi SAW telah menyebutkan dengan tepat tanggung jawab itu yaitu sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang pemimpin harus berhati-hati tehadap yang dipimpinnya. Orang tua harus terus menerus mengawasi dan memperhatikan sehingga yakin bahwa anak-anak mereka tidak tersesat dan jatuh.
Seseorang tidak bisa dibiarkan tumbuh dan berkembang begitu saja tanpa ada yang merawat dan membimbing, karena anak bisa tumbuh liar tak terkendali. Pendidikan merupakan tanggung jawab dan kewajiban orang tua karena anak sebagai amanah Allah SWT. Oleh karena itu orang tua tidak boleh menelantarkan kebutuhan-kebutuhan anak yakni kasih sayang, perlindungan, pendidikan dan sebagainya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadistnya :

  اَكْرِمُوا اَوْلاَ دَكُمْ وَاَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ فَاِنَّ اَوْلاَدَكُمْ هَدِيَّةٌ اِلَيْكُمْ (رواه ابن ماجة)        

 “Hormatilah anak-anakmu sekalian dan perhatikanlah pendidikan mereka, karena anak-anakmu sekalian adalah karunia Allah kepadamu.”[10]
          Hadist di atas mengandung suatu perintah pada orang tua untuk memperhatikan pendidikan dan mengarahkan anak-anak kepada terbentuknya ahlak mulia sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam.
          Agar terjadi keseimbangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat pada anak supernormal perlu penanaman ahlakul kharimah karena dalam muatan SDM yang berkualitas yang paling elementer adalah sikap hidup ahlakul kharimah secara kondusif. Anak supernormal merupakan kekayaan sumber daya insani yang tidak terukur nilainya. Mereka bukan hanya milik orang tuanya melainkan milik masyarakat dimana mereka tumbuh. Oleh karena itu jangan menyia-nyiakan kekayaan yang besar ini. Dengan memenuhi kemauan positif, memuji daya kreasi dan hasil kerja dan mendidik mereka, supaya menjadi cendekiawan umat dan pimpinan masyarakat banyak yang berlandaskan pada ajaran agama.
          Dari permasalahan tersebut penyusun ingin mengkaji tentang bagaimana mendidik anak yang mempunyai keunggulan kecerdasan untuk dapat membangun kehidupan bangsa dalam pandangan pendidikan Islam.
          Untuk itu dalam skripsi ini, sengaja penyusun mengangkat masalah mendidik anak supernormal dalam perspektif pendidikan Islam, penyusun beranggapan bahwa kecerdasan merupakan potensi yang akan menghasilkan generasi penerus yang cakap dan berkualitas yang dapat memahami risalah-Nya, memahami keberadaan-Nya sesuai dengan ajaran agama apabila ada usaha untuk membimbing dan mendidiknya.

C. Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah :
  1. Bagaimana ciri-ciri  anak supernormal ?
  2. Bagaimana mendidik anak supernormal dalam perspektif pendidikan
Islam ?



D. Alasan Pemilihan Judul

           Hal-hal yang mendorong penyusun untuk memilih judul tersebut adalah :
  1. Pendidikan Islam merupakan suatu usaha untuk mempersiapkan anak menjadi manusia yang mandiri dan manusia yang bahagia dunia dan akherat.
  2. Kecerdasan yang dimiliki anak merupakan potensi dan waduk dari SDM yang berbakat sehingga pembangunan negara Indonesia untuk waktu yang akan datang akan lebih meningkat lebih tepat guna mencapai hasil yang diinginkan.
  3. Mendidik merupakan tanggung jawab dan kewajiban orang tua. Dalam mendidik tidaklah mudah orang tua harus tahu potensi dan karakteristik yang dimiliki anak sahingga tahu cara-cara yang benar mendidik anak agar mempunyai masa depan yang baik.

E. Tujuan Dan Kegunaaan Penelitian

  1. Tujuan
Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ciri-ciri anak supernormal dan mengetahui upaya yang dilakukan orang tua dalam   mendidik anak supernormal dalam pandangan pendidikan Islam.
  1. Kegunaan
Untuk memberi informasi kepada orang tua dan para calon orang tua dalam mendidik anak yang memiliki kecerdasan lebih dan memberi motivasi kepada masyarakat untuk selalu memperhatikan perkembangan anak dan juga hasil penelitian ini nanti diharapkan dapat berguna untuk kemajuan bangsa dan negara khususnya generasi Islam.

F. Telaah Pustaka

          Dalam penulisan skripsi ini, penyususn telah berusaha mengumpulkan data yang berasal dari  hasil penelitian yang sesuai dengan tema di atas. Adapun buku-buku tersebut adalah :
  1. Skripsi saudari Siti Nurhayati tahun 2003 yang berjudul Mengembangkan Kecerdasan Intelektual Anak Dalam Perspektif Pendidikan Islam (Telaah Buku : Bangunkan Kejeniusan Anak Anda karya Sakuntala Devi )
Dalam skripsi ini berisi tentang cara-cara atau usaha orang tua dan guru dalam mengembangkan, membangkitkan kecerdasan sehingga benih-benih kecerdasan dan kejeniusan anak bisa muncul dan terwujud secara optimal yang ditinjau dari perspektif pendidikan Islam. Dalam skripsi ini ditekankan upaya orang tua dan guru dalam membangkitkan  anak supaya menjadi cerdas dan jenius.
  1. Skripsi saudari Danar Setyorini tahun 2002 yang berjudul Perkembangan aspek kognisi Pada anak Usia 0-6 Tahun Implikasi Serta Terapannya Dalam Pendidikan Islam.
Dalam skripsi ini berisi tentang upaya pengembangan kemampuan anak pada aspek kognisi pada usia 0-6 tahun dan penerapannya dalam pendidikan Islam . Dalam skripsi ini ditekankan pada perkembangan aspek kognisi yang dimiliki oleh setiap anak.
  1. Skripsi saudara Abdul Aziz tahun 1995 yang berjudul Konsep Anak Didik Menurut Pendidikan Islam.
Dalam skripsi ini tentang konsep anak didik yang dipandang dari sudut pendidikan Islam dan dalam skripsi ini lebih ditekankan pada anak sebagai obyek yang dapat dididik, dibimbing, dan dikembangkan.
          Ada beberapa hal yang menjadikan tulisan ini berbeda dengan tulisan-tulisan di atas. Dalam tulisan ini penyusun berusaha memfokuskan pembahasan ini pada upaya orang tua dalam mendidik anak yang mempunyai keunggulan kecerdasan dalam sudut pandang pendidikan Islam.

G. Kerangka teoritik

        Sikap Islam terhadap pendidikan intelektual anak terpantul dari karakteristiknya sebagai “din fitrah”. Islam melihat dan menghormati potensi manusia sebagai potensi yang utuh tidak sepotong-potong, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mulk : 23 berbunyi :
قُلْ هُوَ الَّذِي اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلاَبْصَارَ وَاْلاَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُوْنَ
Artinya : “… katakanlah ; Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”[11]
          Dari ayat di atas menunjukkan bahwa Islam sangat menghormati dan mendorong potensi intelektual serta menggariskan media-media khusus yang dapat membantu orang tua dalam mendidik dan mengembangkan potensi intelektual anaknya.[12]
          Proses pendidikan pada dasarnya membantu mengembangkan potensi yang dimiliki agar berkembang secara optimal, sehingga anak mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Secara sederhana kualifikasi manusia yang mampu berperan sebagai “subyek” khalifah di muka bumi adalah mereka yang memiliki komitmen iman dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengungkap hukum-hukum alam (sunatullah) dalam rangka memakmurkan kehidupan di muka bumi.[13]
          Islam mewajibkan orang tua untuk mendidik dan menumbuhkan segala aspek kepribadian anak yaitu pertumbuhan jasmani, akal, spiritual, ahlak dan tingkah laku sosial untuk menyiapkan generasi muda untuk menghadapi hidup di masyarakat. Sabagaimana sabda Rasulullah dalam hadistnya :
عَلِّمُوْا اَوْلاَدَكُمْ وَاَهْلِيكُمُ الْخَيْرَ وَاَدِّبُوْهُمْ (رواه عبد الرزاق وسعيد بن منصور)
Artinya : “Ajarkanlah kebaikan (etika dan moral ) kepada anak-anakmu (laki-laki dan perempuan) dan keluargamu (suami dan istri) serta didiklah mereka (pendidikan olah pikir).” ( HR. ‘Abdurrazzak dan Said Bin Mansur )[14]
          Keluarga adalah lembaga yang sangat penting dalam proses pengasuhan anak. Meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor, keluarga merupakan unsur yang sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian dan kemampuan anak.
          Fungsi keluarga dalam hal ini adalah bagaimana peranan orang tua dalam upaya membentuk kepribadian anak, mendidik dan mengembangkan potensi akademi, potensi religius dan moral. Kedekatan orang tua jelas memberikan pengaruh yang besar dalam proses pembentukan di banding pengaruh yang diberikan oleh komponen pendidikan lainnya.[15]
          Selain keluarga faktor lingkungan yang tak kalah penting adalah sekolah. Sekolah adalah sebuah lingkungan yang amat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan akal.[16]
          Agar pendidikan berhasil diperlukan situasi pendidikan yang baik, bahan-bahan pendidikan serta metode mendidik yang tepat.[17] Untuk itu orang tua harus mempersiapkan anak baik dari segi jasmani, akal, dan rohaninya sehingga dia menjadi angggota masyarakat yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun masyarakat.
Anak supernormal adalah anak yang mempunyai intelegensi di atas normal. Anak yang tergolong supernormal adalah anak yang memiliki intelegensi di atas 110.
Adapun kalsifikasi anak yang tergolong supernormal berdasarkan tingkat tingginya intelegensi menurut para ahli adalah :
a.       Robert S. Woodwort dan Donalt C. Marquis membagi klasifikasi IQ jenis anak super normal adalah sebagai berikut :

                        140 – ke atas                          Genius
                        130 – 139                                Very Superior
                        120 – 129                                Very Superior
                        110 – 119                                Superior
b.      Baker mengklasifikasikan klasifikasi IQ anak supernormal menjadi 3 golongan :

                        140 – 200                                Genius
                        125 – 140                                Gifted
                        110 – 125                                Rapid
c.       Menurut Gauss (sebaran nilai IQ menurut kurve normal gauss ) yaitu :

                        Di atas 139                              Sanagt menonjol
                        120 – 139                                Menonjol
                        110 – 119                                Di atas biasa
                        90 – 109                                  Biasa (rata-rata)
                        80 – 89                                    Di bawah biasa
                        76 – 79                                    Batas terbelakang
                        Di bawah 70                            Terbelakang mental
d.      Menurut  Stanford Binet klasifikasi IQ anak menjadi :

                        140 – 169                                Very superior
                        120 – 139                                Superior
                        110 – 119                                High Average
e.       Menurut Terman klasifikasi IQ anak menjadi :

                        140 – Above                           Near Genius Of Genius
                        120 – 140                                Very superior intellegence
                        110 – 120                                Superior intellegence
f.       Menurut Wechsler klasifikasi IQ anak menjadi :

                        130 – 200                                Genius
                        120 – 129                                Sangat pandai
                        110 – 119                                Pandai[18]
          Dari beberapa klasifikasi tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa rata-rata yang tergolong anak supernormal adalah anak yang memiliki intelegensi di atas 110 dan bisa disebut dengan anak jenius, very superior dan superior.
Mendidik anak supernormal pada umumnya sama seperti mendidik anak normal biasa karena setiap anak memerlukan kasih sayang, rasa aman, perhatian serta dorongan dari orang tua.  Karena anak supernormal mempunyai kecerdasan yang tinggi sehingga sifat dan tingkah lakunya berbeda maka kebutuhannya pun berbeda dengan anak normal biasa. Untuk itu dalam mendidiknya lebih khusus agar terpenuhi segala kebutuhannya.
          Orang tua dapat mendidik anaknya yang super di rumah, dengan menciptakan rumah yang penuh kegembiraan dan diterapkannya proses belajar mengajar yang menyenangkan caranya :
  1. Sediakan fasilitas seperti buku-buku, mainan, pensil, kertas, crayon, tanah liat, kaset audio dan kaset video. Karena benda-benda ini penting bagi seorang jenius yang sedang berkembang.
  2. Perbanyak pujian.
  3. Kegembiraan dalam berbagi.[19]
Menurut Sutratinah Tirtonegoro ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk anaknya yang supernormal :
  1. Menciptakan lingkungan rumah yang serasi, selaras dan seimbang dalam diri anak supernormal.
  2. Menyiapkan sarana lingkungan fisik-alam-sosial yang memungkinkan anak dapat mengembangkan kemampuannya.[20]
Di samping itu orang tua juga perlu menggunakan metode-metode yang tepat untuk meningkatkan proses pembelajaran super, yaitu metode yang dapat menimbulkan rangsangan kegiatan dan kegairahan belajar secara aktif :
  1. Mengembangkan Identitas
  2. Permainan
  3. Melihat-lihat perpustakaan
  4. Berjalan-jalan di alam terbuka
  5. Membuat dan mengajukan pertanyaan.[21]
Menurut Abdullah Nasih Ulwan, agar ilmu pengetahuan, pemikiran dan otak yang dimiliki anak semakin matang, orang tua harus menyediakan sarana-sarana budaya yang bermanfaat dan bervariasi yaitu :
  1. Mendirikan perpustakaan
  2. Mengunjungi museum
  3. Mengunjungi perpustakaan
  4. Menanamkan kerinduan untuk terus mengkaji.[22]
Mendidik dengan pemberian bantuan dan dorongan akan memberi anak perasaan bahwa dia hidup di dunia yang menyenangkan diantara orang-orang yang memahami dan menghargainya. Hal itu akan menumbuhkan dalam dirinya kecintaan ilmu dan pengetahuan. Bimbingan yang diberikan anak superior baik di rumah maupun di sekolah demikian dengan pula dengan pengertian dan penerimaan terhadap ide-idenya akan menciptakan benih bagi munculnya seorang peneliti, pemikir, atau ilmuwan masa depan. Pembinaan itu akan membantunya untuk menerima dan menampilkan kemampuan intelektualnya yang kelak akan sangat penting bagi pengabdian kepada masyarakat.[23]
Pendidikan Islam berperan sebagai penghasil out put yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Out put yang memiliki kecerdasan yang tinggi ditandai dengan sejauh mana mereka mampu memikirkan inovasi-inovasi baru yang menyelesaikan problem-problem hidup. Dan juga pendidikan Islam berusaha mempersiapkan anak didiknya untuk memperoleh kebahagiaan dunia akherat sesuai dengan tujuan. Pendidikan Islam juga menjadikan anak didiknya menjadi manusia sempurna.

H. Metode Penelitian

  1. Jenis penelitian
Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah literer atau penelitian perpustakaan (Library Research) artinya sebuah studi dengan mengkaji buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini yang diambil dari perpustakaan. Semua sumber berasal pada bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
  1. Metode Pengumpulan Data
Karena penulisan ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) maka data-data yang diambil berasal dari berbagai sumber tulisan, baik dari majalah, tulisan ilmiah dan lain-lain yang bersangkutan dengan materi yang penulis bahas. Adapun metode penelitian di dapat dari beberapa data diantaranya adalah :


    1. Sumber data primer
Yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini yaitu buku yang berjudul “Anak Supernormal dan Program Pendidikannya”, Dra. Sutratinah Tirtonegoro, (Jakarta, Bina Aksara, 1984), “Bangunkan Kejeniusan Anak Anda”, Sakuntala Devi, ( Bandung, Yayasan Nuansa Cendekia, 2002), “Pendidikan Anak Menurut Islam: Kaidah-Kaidah Dasar”, Abdullah Nasih Ulwan, ( Bandung Remaja Rosdakarya, 1992),  “Mendambakan Anak Sholeh: Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Dalam Islam”, Asnelly Ilyas Pengantar Zakiah Darajat ( Bandung, Al-Bayan Mizan, 1998)
    1. Sumber Data Sekunder
Yang menjadi sumber data sekunder yaitu buku yang berjudul ; ‘ Anak-Anak Yang Cemerlang”, Sadik Samaan dan Zakiah Darajat, (Jakarta, Bulan Bintang, 1980), “Cerdas Dan Cemerlang”, Joan Freeman Dan Utami Munandar, (Jakarta, Pustaka Utama, 2001), Aku Dan Anakku, Bimbingan Praktis Mendidik Anak Menuju Remaja, Ma’ruf Zurayk, ( Bandung, Al-Bayan, 1998)
  1. Metode Analisa Data
Dalam penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Metode deskriptif analitis adalah suatu usaha untuk mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian diusahakan adanya analisis dan penafsiran data.[24]
Langkah-langkah dalam penelitian metode deskriptif analisis diantaranya adalah :
    1. Membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu lalu mengambil bentuk studi komparatif.
    2. Mengadakan penilaian
    3. Menetapkan standar (normatif)
    4. Menetapkan hubungan dan kedudukan (status) satu unsur dengan unsur yang lain
    5. Menarik kesimpulan.[25]
Dalam metode analisis data ini menggunakan pola pikir ilmiah sebagai berikut :
1.      Deduktif
Pola pikir deduktif yaitu pola berfikir dengan menggunakan analisa yang berpijak dari pengertian-pengertian atau fakta-fakta yang bersifat umum, kemudian diteliti dan hasilnya dapat memecahkan masalah khusus.[26]
2.      Induktif
Pola pikir induktif yang berpijak pada fakta-fakta yang bersifat khusus kemudian diteliti dan akhirnya ditemukan pemecahan persoalan yang bersifat umum.[27]

I. Sistematika Pembahasan

          Untuk memberi gambaran pembahasan dalam skripsi ini secara menyeluruh dan sistematis, maka penulisan skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :
              Dalam penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab, yang sebelumnya didahului dengan beberapa halaman yang mencakup halaman judul, halaman nota dinas, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, halaman pengantar dan daftar isi, kemudian dilanjutkan bab I, bab II, bab III, bab IV, dan bab V
          Bab I yaitu pendahuluan yang terdiri dari penegasan istilah, latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penulisan, telaah pustaka, kerangka teoritik, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan.
          Bab II merupakan konsep pendidikan Islam yang meliputi : pengertian pendidikan Islam, dasar dan tujuan pendidikan Islam, dan faktor-faktor pendidikan Islam.
          Bab III merupakan bab inti dari pembahasan ini meliputi pengertian anak supernormal, ciri-ciri  anak supernormal, dan faktor yang mempengaruhi kecerdasan.
          Bab IV merupakan bab yang membahas tentang mendidik anak supernormal dalam perspektif pendidikan Islam berisi tentang mendidik anak supernormal dan pendidikan anak supernormal dalam pandangan pendidikan Islam.
        Bab V adalah bab penutup yang berisi tentang kesimpulan yang merupakan hasil akhir dari penelitian  kemudian saran-saran dan diakhiri dengan kata penutup.
Pada akhir halaman dicantumkan juga daftar pustaka, lampiran-lampiran, daftar riwayat hidup.


Selengkapnya Silahkan >>> DOWNLOAD

Tags: PEMIKIRAN HASAN AL-BANNA TENTANG URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM MEMBANGUN MORAL BANGSA
Copyright © Sufi ~ Artikel Ilmu Tasawuf dan Sufisme All Right Reserved
Hosted by Satelit.Net Support Satelit.Net